Ini memang tentang kehilangan, tapi bukan tentang ketiadaan. Sayang, ingat siang itu? Saat kau datang dengan seragam merah putih namun tanpa tawa dan teriakan mencari ibu seperti yang biasa kau lakukan setiap pulang sekolah? Matamu sembab, pipi yang basah oleh air mata, dan ingus yang berkali-kali ingin keluar namun selalu kau tarik kembali. Isakan pertamamu… karena kehilangan.
Ini memang tentang kehilangan, tapi bukan tentang ketiadaan. Saat kamu baca surat ini, Ibu yakin kamu sudah lebih dewasa. Dan mungkin kamu sudah bebal dengan berbagai kehilangan, sudah menjadi lebih kuat, tak ada lagi tangisan seperti saat itu. Mungkin pula kau sudah terbiasa dengan segala hal yang datang dan pergi dalam hidupmu…
Sayang… Ini memang tentang kehilangan, tapi bukan tentang ketiadaan. Bertahun-tahun yang lalu Ibu mengganti tempat pensilmu dengan yang lebih baru, dan lebih bagus. Tapi tahukah kamu? Jika kamu pahami lebih seksama sekarang, Ibu tidak menggantinya. Ibu menambah jumlah tempat pensil yang kau miliki. Tempat pensil pertamamu itu memang hilang, tak lagi dapat kau lihat, sentuh ataupun raba. Tapi tahukah kamu, ia tetap ada, entah dimana, disuatu tempat di dunia ini hingga saat ini. Bahkan jika ia hanya tersisa menjadi partikel-partikel kecil yang tak dapat kau kenali, bahkan jika ia berubah menjadi hal lain karena proses daur ulang… Ia akan tetap ada.
Sayang, ada banyak hal yang menghilang dalam kehidupan ini, tapi menghilang tidak sama dengan tiada. Mungkin ada banyak hal yang tak lagi dapat kau lihat, kau dengar, kau sentuh ataupun kau raba. Tapi ia akan selalu ada, entah dimana… Tak usah kau cari dimana dia bersembunyi. Tak usah kau cari kemana ia menghilang, karena ia akan selalu ada…
Tersimpan di otakmu sebagai kenangan dan menempati satu sudut di hatimu hingga ada kalanya membangkitkan rasa-rasa tertentu pada dirimu.
Tersimpan di otakmu sebagai kenangan dan menempati satu sudut di hatimu hingga ada kalanya membangkitkan rasa-rasa tertentu pada dirimu.
peluk cium,
Ibu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar