Kamu dan Sebait Rasa
Kugumamkan satu kata ‘rasa’, mungkin seperti kerlip lampu kota yang mendesahkan cahaya dan mampu merajut warna dalam hitam malam.
Lalu kurangkai rasa ini dengan ‘kamu’. Bahwa kamu seperti genggaman yang melengkapi sela-sela jemariku dengan sempurna. Kamu yang dipilihkan Tuhan. Seperti hujan yang ditakdirkan turun hari ini, menepis gersang serakan debu di jalan.
Dan jika ini tentang ‘kita’, maka bayangannya seperti senja yang menggelayut sempurna di batas cakrawala. Jingga yang menghanyutkan. Meninggalkan siluet yang begitu teduh diantara siang dan malam.
Maka biarkan ‘doa’ mengunci erat kita dalam ruang rindu. Agar jarak tak kasat mata ini dapat tergerus dengan sempurna. Hingga akhirnya hati kita tertaut pada rasa tanpa pernah merasa kadaluarsa.
Dan aku berbisik ‘jangan takut sayang’. Rasa ini bukan kaktus yang penuh duri, tapi ia seperti bunga matahari yang mekar sempurna menatap cahaya mentari.
Mungkin aku tak bisa menjanjikan pundi-pundi senyum tak berbatas kepadamu. Tapi yang kutahu akan ada banyak nada dalam simfoni lagu kita.
Kita tak akan terbang bersama. Kita hanya akan berjalan dengan pijakan yang kuat di bumi. Beriringan. Hingga nanti terlukis jejak tentang kita.
Aku. Kamu. Dan sebait Rasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar